Selamat Datang Di Website Narulita Sari
RSS

Minggu, 02 Januari 2011

Doa

Tuhanku..............
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh 
Cahya-Mu panas suci 
Tinggal kerAdip lilin di kelam sunyi 
Tuhanku....................
Aku hilang bentuk 
Remuk
Tuhanku..................
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Baca Selengkapnya...

Pantun lucu

 Pantun Bo'ong

Jalan-jalan di pinggir kali
Di pinggir kali ketemu sapi
Waah! ganteng banget kamu hari ini
Tapi sayang 
Cuma dalam mimpi

 Pantun Orang muda

Sekuntum bunga dalam padi,
ambil batang cabut uratnya.
Tuan sepantun langit tinggi,
bolehkah berlindung di bawahnya?

Pantun orang tua

Kemamu sai dalam semak,
jatuh melayang selarasnya.
Meski ilmu setinggi tegak,
tidak sembahyang apa gunanya.
Baca Selengkapnya...

Musium Perjuangan

Susun batu yang bulat bentuknya
berdiri kukuh menjaga senapan tua
peluru menggeletak di atas meja
menanti putusan pengunjungnya

Aku tahu sudah, di dalamnya
tersimpan darah dan air mata kasih
Aku tahu sudah, di bawahnya
terkubur kenang dan impian
Aku tahu sudah, suatu kali
ibu-ibu di renggut cintanya
dan tak pernah kembali

Bukalah tutupnya.
senapan akan kembali berbunyi
meneriakan semboyan
Merdeka atau mati.

Ingatlah, sesudah sebuah perang
selalu pertempuran yang baru
melawan dirimu.
Baca Selengkapnya...

Menyesal

Pagiku hilang seudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Badan usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu miskin harta

Akh,apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma

Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke arah padang bakti.
Baca Selengkapnya...

Di Batas Yogya

Kenangan demi kenangan memimpikan langkahku
Angin kurasa menyertai di sisiku
Tetapi aku tetap termangu
Berdiri di antara dua prasangka

Jauh di masa silam aku berbayang.Tetapi kini
Cahaya di matanya kurasakan asing
remaja-remaja yang kupapas,orang lain
dan kini ada jalan simpang ke utara

jauh di masa   silam aku bermukim di matanya
tetapi kini adakah tempat bagiku
kutahu segala yang menyerap di jantung uratnya
bukan yang menyerap dalam jiwa ragaku

tinggal satu hal mendorong langkahku
kuyakin ia dan aku tetap menahan yang kekal
hasrat menuju yang lebih baik
jauh di masa silam aku anak bengalnya
kini kurasa masih akan tetap aku anak yang dulu
aku tetap lawannya dalam satu hal
karibnya dalam lain soal
Baca Selengkapnya...